Mari Bersama Menaklukkan Keinginan Bunuh Diri

Edukasi kesehatan jiwa oleh IMAJI dan PKH di Dusun Pulebener Desa Giring Paliyan, Maret 2019. Edukasi kesehatan jiwa merupakan salah satu langkah primer upaya besar pencegahan bunuh diri. Foto: Basuki.

Kematian karena bunuh diri masih sering terjadi di wilayah Gunungkidul. Sampai 22 Maret 2019 ini terhitung sudah terjadi 14 peristiwa bunuh diri. Ada 13 kejadian bunuh diri di wilayah Gunungkidul dengan 12 pelaku sekaligus korban adalah warga asal Gunungkidul. Terdapat 1 kejadian bunuh diri di tempat wisata Pantai Baron pelakunya warga dari Surakarta.

Terakhir, masyarakat tercengang dengan adanya kejadian bunuh diri warga asal Gunungkidul di Cibitung Bekasi pada Kamis (21/3/19) kemarin. Boleh dibilang tidak ada yang mengira, Dandi Setyawan (20), perantau muda lulusan sebuah SMK Kesehatan di Gunungkidul yang sedang merintis karir di sebuah klinik kesehatan ini hidupnya berakhir tragis menyedihkan.

Ia ditemukan sudah meninggal di kamar pondokannya pada Kamis pagi kemarin. Dari pemeriksaan medis di RSUD Cibitung Bekasi, Dendi dinyatakan meninggal karena bunuh diri. Siapapun yang normal pasti bisa merasakan bagaimana kesedihan orang tuanya di kampung yang pasti berharap yang terbaik untuk anaknya. Langgam campursari karya Manthous “Putra Nuswantara” bisa menjadi contoh, bagaimana harapan para orang tua untuk anak-anaknya.

Teman-Teman yang Menyelamatkan

Beberapa riset di bidang psikiatri mengungkap, bunuh diri merupakan peristiwa yang rumit. Tidak ada penyebab yang bersifat tunggal, ada banyak faktor saling kait-mengkait antara faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Karena itu, menjadi tidak elegan apabila melegitimasi salah satu faktor menjadi satu-satunya penyebab.

Dari modul deteksi dini risiko bunuh diri yang dikembangkan PDSKJI, diperoleh gambaran, bahwa penilaian risiko bunuh diri dinyatakan dalam 3 skala: rendah, sedang, dan tinggi. Artinya tidak ada kategori 0 (nol) risiko. Ini sesungguhnya bermakna bahwa tidak ada seorangpun yang memiliki 0 (nol) risiko bunuh diri. Karena itu, upaya mencegah bunuh diri sesungguhnya menjadi bagian kehidupan setiap orang.

Portal berita Kumparan, pada Kamis (21/3/19) kemarin menurunkan tulisan bagaimana menaklukkan keinginan bunuh diri. Kumparan tampaknya turut merasakan, bagaimana kegelisahan terkait adanya kejadian bunuh diri di Indonesia. Sebuah pembelajaran menarik dan bermanfaat untuk upaya penanggulangan bunuh diri dapat ditelaah dari sebuah kasus percobaan bunuh diri mahasiswa kedokteran asal Indonesia yang sedang menempuh studi tingkat master di Malmo Swedia berikut ini.

“Please Endri, open the door. Let me talk to you. I beg you. Tolong Endri, bukalah pintu. Biarkan aku bicara padamu. Aku memohon kepadamu,” teriak Marvin sambil menggedor-gedor pintu. Endri Budiwan tak menghiraukannya dan memilih menutup rapat unit apartemennya yang terletak di Malmo, kota terbesar ketiga di Swedia.

Keributan itu terjadi di lantai 8 apartemen pada pukul dua dini hari. Saat itu sedang musim panas, tepatnya Juni 2015, di malam setelah Endri diwisuda dan menyandang gelar master. Di dalam kamar, ia sudah menyiapkan peralatan untuk mengakhiri hidup.

Sebagai seorang dokter, Endri tahu persis metode yang paling cepat untuk mati. Tetapi, percobaan bunuh diri itu digagalkan dua polisi Swedia yang datang setelah upaya Marvin tak berhasil membuatnya keluar apartemen.

“Saya selamat bukan karena saya bertahan hidup. Tapi karena teman-teman yang menyelamatkan. Tanpa mereka mungkin saya sudah enggak ada,” Endri menceritakan kejadian malam itu.

Ia kemudian menyebutkan satu nama temannya lagi, yang dianggap paling berjasa menyelamatkan nyawanya. Orang itu ialah Kjel Olsson. Begitu tahu Endri berniat bunuh diri, dia menghubungi Marvin yang tinggal tak jauh dari apartemen.

Kjel pula yang melapor ke polisi soal percobaan bunuh diri itu. Endri masih ingat reaksi Kjel setelah mendengar permintaan maaf dan kata-kata terakhir darinya melalui fitur percakapan Facebook.

“Dia bereaksi seperti ada sesuatu yang terjadi dengan saya sehingga dia menelepon polisi, (reaksi) yang mungkin tidak akan terjadi kalau saya waktu itu chatting-an dengan orang Indonesia,” kenang Endri.

Malam itu seharusnya menjadi pesta perayaan kelulusannya bersama kawan-kawan. Namun Endri justru mendapat perawatan di bagian gawat darurat psikiatri. Setelah berhasil mengelabui polisi bahwa ia tidak sedang melakukan percobaan bunuh diri, Endri langsung menelepon ambulans untuk membawanya ke rumah sakit.

“Di hari wisuda saya masih bisa tersenyum dan bercanda. Enggak akan ada orang yang bisa melihat bahwa saat itu saya sedang merencanakan untuk bunuh diri,” kenang Endri.

Pria 35 tahun itu depresi karena masalah personal dan keluarga. Puncaknya, saat sang ibu kerap keluar masuk rumah sakit karena serangan jantung. Endri tak berhenti menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab sakit sang ibunda.

Menjalani Terapi Jiwa Bukan Aib juga Tidak akan Kehilangan Kehormatan

Menjalani terapi jiwa atau terapi psikiatri dan psikologi bukanlah aib atau tabu. Ini memang belum begitu memasyarakat. Sebagian besar masyarakat Indonesia, tentu saja termasuk di wilayah Gunungkidul dan DIY belum bisa menerima berobat ke dokter jiwa dan berkonsultasi ke psikolog sebagai hal lumrah dalam kehidupan.

Masih banyak yang berkeyakinan, mendatangi dokter jiwa atau mendatangi rumah sakit jiwa itu menakutkan, seperti melihat neraka. Kadang masih ada yang memandang bakal mempermalukan diri. “Bakal kelangan derajat, pakurmatan, semat, lan pangkat”, ungkapan Jawanya. Ini sesungguhnya sesuatu yang salah kaprah, tidak sejalan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dan tentu saja sangat menghambat upaya penanggulangan bunuh diri dan kesehatan jiwa.

Kembali ke kisah yang dimuat di Kumparan, sebulan setelah percobaan bunuh diri, Endri kembali ke Indonesia. Tetapi, kondisinya tak membaik. Ia berhari-hari tidak makan dan tidur. Sehari-hari, kata Endri, dia hanya berbaring di kamar. Kedua orang tua Endri kemudian memaksanya pergi ke psikiater.

“Awalnya saya ditarik-tarik ke psikiater saya masih bisa memegang ke kasur (menolak), tapi setelah beberapa hari enggak makan dan minum akhirnya saya dipaksa orangtua saya sudah enggak bisa menolak,” tuturnya.

Barulah kemudian, Endri menjalani terapi. Periode ini menjadi titik balik kehidupannya. Ia mulai membuka diri dari saran seorang teman yang pernah mengalami depresi. Endri merasa memiliki teman untuk berbagi, tanpa ada lagi yang perlu ditutup-tutupi.

Endri berinisiatif menuliskan kisahnya di blog dan Facebook, “Tanpa saya sharing, tanpa saya membuka diri mungkin sampai sekarang enggak ada yang pernah menjadi lingkaran support system saya,” lanjut dia.

Selain berbagi dengan menulis, Endri juga mendapatkan kekuatan dari hobi barunya yakni berlari. Dengan berlari, Endri menemukan semangat hidupnya kembali. “Ketika saya lari, 3 sampai 4 kali sehari dalam seminggu, setidaknya ada dua jam sehari yang saya habiskan bukan untuk memikirkan apakah saya mau mati atau enggak,” katanya.

Semasa duduk di bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi, laki-laki yang gemar memasak itu mengaku tak memiliki ketertarikan pada olah raga. Namun, kini ia merasa berlari membantunya keluar dari depresi. “Salah satu perangkap dari depresi adalah untuk menghindari pertemanan, menghindari keluar rumah dan menghindari beraktivitas,” katanya.

Perjuangan Endri melawan depresinya ternyata tak mudah, bahkan setelah setahun mendapat perawatan dan terapi. Prosesnya, kata Endri, tidak singkat meski ia sudah merasa pulih. Saat mendapat tawaran pekerjaan, misalnya, Endri masih ragu untuk menerimanya.

Ia khawatir mentalnya kembali jatuh bila menghadapi tekanan. “Bagaimana jika nanti teman-teman tahu, bagaimana kalau saya tidak sanggup,” kata dia.

Masa-masa terberat Endri akhirnya lewat setelah ia berhasil meyakinkan diri untuk terbuka kepada rekan-rekan kerjanya. Meski saat itu dia masih menjalani terapi. “Akhirnya malah jadi positif, itu jadi obrolan sambil makan gorengan, bukan obrolan yang tabu lagi,” katanya.

Bagi Endri, dirinya bukan contoh yang baik. Beban yang mendorongnya bunuh diri sebenarnya bisa saja dikurangi dengan lebih terbuka mengkomunikasikan masalah kepada orang lain.

“Jadikanlah saya sebagai contoh yang buruk bahwa ketika ada sesuatu terjadi tapi malah tidak curhat itulah yang akan terjadi (berpikiran untuk bunuh diri). Jadikanlah saya sebagai pelajaran yang buruk dan jangan sampai terjadi lagi hal seperti itu,” ujar Endri.

Faktor Risiko Bunuh Diri

Ketua Perkumpulan Into The Light, komunitas yang fokus dalam isu pencegahan bunuh diri, Benny Prawira mengatakan, faktor penyebab bunuh diri sangat kompleks. “Dari biologi, psikologi, sosialnya dia itu seperti apa sih yang terjadi. Nah yang jadi masalah adalah seringkali kita berpikir bahwa itu faktor tunggal. Padahal enggak,” ungkapnya.

Bunuh diri juga tak mungkin terjadi karena satu insiden yang dialami seseorang, semisal putus dari pacar atau terbelit hutang. Hal itu, ujar Benny, bisa jadi hanya pemicu. Di belakangnya, pastilah ada akumulasi persoalan yang kemudian memuncak karena sebuah insiden.

Mayoritas kasus bunuh diri, lanjut Benny, disebabkan depresi. Namun, tak selamanya pendorongnya hanya depresi. Stres yang begitu hebat, juga bisa memicu keinginan bunuh diri. Marina Nurrahmani, seorang psikolog yang kini bekerja di sebuah fasilitas kesehatan tingkat pertama di daerah Jakarta Timur, mengatakan rata-rata kecenderungan bunuh diri menghinggapi orang di usia produktif antara 20-40 tahun.

Nah, lingkungan sekitar punya peran penting untuk mendeteksi dini potensi seseorang untuk melakukan bunuh diri. Mirna menjelaskan tanda-tanda seseorang mengalami depresi. “Mulai memutus kontak sama teman-teman, mengunci diri di kamar, memutus hubungan dengan dunia luar, sudah tidak mau bekerja lagi, atau enggak mau sekolah lagi. Jadi susah tidur atau justru kebanyakan tidur,” papar Marina.

Menganggap Sepele Keluhan Seseorang Itu Berisiko

Itu dari sisi perubahan perilaku. Ada pula ‘kata kunci’ yang menunjukan seseorang punya potensi bunuh diri. Semisal, ia tiba-tiba meminta maaf, menyatakan sudah lelah hidup, atau yang paling eksplisit bila seseorang terang-terangan menyatakan ingin mati.

Persoalannya, masih banyak orang yang belum sensitif dengan hal semacam itu. Menurut Benny Prawira, ‘kata kunci’ tersebut masih kerap tidak ditanggapi orang-orang sekitar dengan serius. Semisal, status media sosial bernada keputusasaan malah direspons dengan bercanda.

“Tanda peringatan ini lebih baik di-overestimated tapi kita salah, daripada kita underestimated tapi dia bener pengin mati. Jadi itu bahaya banget. Mending kita overestimated, tapi kita salah,” kata Benny.

Di samping itu, lingkungan tak cuma berperan dalam mendeteksi kemungkinan seseorang bunuh diri, andilnya juga sama besar dalam hal membantu penyintas bunuh diri untuk pulih. Kombinasi faktor personal dan sosial, menurut Benny, menentukan. Minum obat atau rajin berkonsultasi ke psikiatri tidak akan otomatis membantu orang yang ingin bunuh diri.

“Lingkungan harus manage. Interaksi sosial di sekitar kita itu harus kita kendalikan juga. Orang-orang toxic apa yang bisa kita putus. Atau kalau enggak bisa kita putus dari hidup kita gimana me-manage itu,” ujar Benny.

*****

Apabila memerlukan informasi dan layanan terkait permasalahan kesehatan jiwa termasuk permasalahan bunuh diri silakan hubungi Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat, karena sesuai peraturan pemerintah, permasalahan kesehatan jiwa sudah menjadi standar pelayanan minimal semua layanan kesehatan publik.

Untuk wilayah Gunungkidul, LSM Inti Mata Jiwa juga memberikan layanan konseling dan pendampingan, bisa dikontak di nomor hotline 082138608128 atau imaji.idn@gmail.com.

Beberapa komunitas pendampingan layanan konseling psikologis dan kesehatan jiwa di seputar Jakarta: LSM Jangan Bunuh Diri via email janganbunuhdiri@yahoo.com dan saluran telepon (021) 9696 9293, dan Yayasan Pulih di (021) 78842580.

***

Referensi:

http://swaragunungkidul.com/mari-bersama-menaklukkan-keinginan-bunuh-diri/

https://kumparan.com/@kumparannews/menaklukkan-keinginan-bunuh-diri-1553138088837770219

Facebook Comments