Mengenal Tindakan Bunuh Diri

Apakah tindakan bunuh diri yang terjadi di Gunungkidul itu karena disebabkan oleh “pulung gantung”? Secara riil, jawaban pertanyaan ini masih menjadi perdebatan panjang di tengah masyarakat Gunungkidul sendiri. Ada yang yakin dengan sepenuh hati, sebaliknya ada yang mengkritisi sampai dengan tidak meyakininya.

Sulit menemukan bukti empiris bahwa tindakan bunuh diri itu karena pulung gantung. Dari peristiwa-peristiwa yang terjadi, keyakinan penyebab bunuh diri karena “pulung gantung” selalu berdasarkan pengakuan pihak lain yang didahului dengan ungkapan khas: Wingi sakdurunge kedadeyan, jarene Si X ngonangi ana clorot tiba neng omahe …. atau “Kemarin sebelum kejadian, katanya si X melihat ada sinar yang jatuh di rumahnya…

Tulisan ini tidak akan membahas tentang perdebatan klaim “pulung gantung” sebagai penyebab peristiwa bunuh diri. Biarlah perdebatan itu berkembang menemukan titik temunya sesuai dengan perkembangan masyarakat yang dinamis.

Yang perlu menjadi perhatian adalah, menyerahkan sebab-musabab kejadian bunuh diri kepada “pulung gantung” sesungguhnya berperan menjadi penutup peristiwa secara “magis”. Bisa menjadi “bungkus penutup” agar tidak dibicarakan lagi. Di sisi lain, secara fungsional akan menjadi faktor utama keengganan bertindak menanggulangi dan mencegahnya di kemudian hari.

Karena itu, tulisan berikut dimaksudkan agar kita secara faktual mengenal apa yang disebut tindakan bunuh diri. Mengenal dan mempelajari dinamika bunuh diri secara saintifik, sehingga dapat dimengerti mengapa diperlukan upaya penanggulangan tragedi kemanusiaan ini, baik dalam tahap perawatan, pemulihan, pencegahan, dan upaya promotif meningkatkan ketahanan mental masyarakat.

Pengertian Bunuh Diri

Menurut WHO (tahun 2001) yang mengacu pada pendapat sosiolog Emile Durkheim, terdapat empat kategori sosial bunuh diri, yaitu: egoistik, altruistik, anomik, dan fatalistik. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

  • Bunuh diri egoistik terjadi pada orang yang kurang kuat integrasinya dalam suatu kelompok sosial. Misalnya orang yang hidup sendiri lebih rentan untuk bunuh diri daripada yang hidup di tengah keluarga, dan pasangan yang mempunyai anak merupakan proteksi yang kuat dibandingkan yang tidak memiliki anak. Masyarakat di perdesaan lebih mempunyai integritas sosial daripada di perkotaan.
  • Bunuh diri altruistik terjadi pada orang-orang yang mempunyai integritas berlebihan terhadap kelompoknya, contohnya adalah tentara Jepang dalam peperangan dan pelaku bom bunuh diri.
  • Bunuh diri anomik terjadi pada orang-orang yang tinggal di masyarakat yang tidak mempunyai aturan dan norma dalam kehidupan sosialnya.
  • Bunuh diri fatalistik terjadi pada individu yang hidup di masyarakat yang terlalu ketat peraturannya. Dalam hal ini individu dipandang sebagai bagian di masyarakat dari sudut integrasi atau disintegrasi yang akan membentuk dasar dari sistem kekuatan, nilai-nilai, keyakinan dan moral dari budaya tersebut.

Sigmund Freud (1856-1939) mengatakan, bahwa bunuh diri merupakan agresi yang membalik kepada dirinya terhadap suatu obyek cinta. Sementara itu, Karl Menninger (1938) mengatakan, bahwa bunuh diri sebagai pembunuhan terbalik karena kemarahan terhadap orang lain diarahkan kepada dirinya.

Perkembangan terakhir dari ilmu yang mendalami bunuh diri telah memberikan pandangan baru berdasarkan interaksi dari faktor biologis (biokimia dan neuroendokrin), psikologis (perasaan dan keadaan emosional), dan sosial dari seseorang. Pandangan ini memberikan pengertian yang lebih baik tentang bunuh diri dan penatalaksanaannya (baca: upaya penanggulangannya) yang bersifat lebih komprehensif.

Definisi Operasional terkait Bunuh Diri

Beberapa definisi operasional yang perlu diketahui terkait bunuh diri:

  • Tindakan bunuh diri atau suicidal act adalah tindakan yang meliputi bunuh diri dan percobaan bunuh diri.
  • Bunuh diri atau suicide atau committed suicide adalah tindakan merusak diri sendiri atau menggunakan zat (obat atau racun) yang mengakibatkan kematian.
  • Bunuh diri mikro (microsuicide): kematian akibat perilaku bunuh diri misalnya bunuh diri “pelan-pelan” atau yang terdapat pada orang-orang yang dengan sengaja tidak mau berobat meskipun menderita sakit, mogok makan, diet berlebihan dan sebagainya.
  • Bunuh diri terselubung (masked suicide): orang yang sengaja melakukan tindakan yang mengakibatkan kematian dengan cara terselubung, misalnya mendatangi tempat kerusuhan sehingga terbunuh, olah raga yang berbahaya, overdosis pada pasien ketergantungan zat dan sebagainya.
  • Percobaan bunuh diri atau attempted suicide adalah tindakan dengan sengaja merusak diri sendiri atau menggunakan zat (obat atau racun) dengan tujuan mengakhiri kehidupan yang tidak mengakibatkan kematian, namun membutuhkan intervensi medik psikiatrik.
  • Risiko bunuh diri adalah suatu keadaan meningkatnya tendensi untuk melakukan bunuh diri.
  • Pencegahan bunuh diri meliputi pencegahan primer, sekunder dan tersier

Stop sampai di sini dulu. Tulisan berikutnya adalah apakah alasan seseorang melakukan bunuh diri? Apa faktor risiko bunuh diri? Bagaimana kita bisa berperan ikut mencegahnya?

Facebook Comments