Warga Plembutan Playen Ditemukan Meninggal Bunuh Diri di Pemakaman

Peristiwa bunuh diri di Dusun Plembutan Playen. Foto: Kandar.

Rabu pagi (6/3/19) sekitar pukul 0730 WIB telah terjadi peristiwa bunuh diri dengan cara gantung diri di Padukuhan Plembutan Timur, Plembutan, Playen. Warga tidak ada yang menyangka, peristiwa bunuh diri menimpa Suharto (63), warga Plembutan Timur RT 13/04 tersebut, karena korban sempat mengobrol dengan warga yang ditemui di jalan sebelum kejadian berlangsung.

Menurut keterangan petugas Polsek Playen, kejadian tersebut pertama kali ditemui oleh Wagiyo (55), tetangga korban. Menurut kesaksian Wagiyo, pada pukul 06.30 dirinya masih bertemu dengan Suharto di jalan dekat pemakaman dusun Plembutan Barat. Pada saat bertemu, Suharto sempat mengatakan bahwa badannya sudah tidak kuat, ia menitipkan keluarganya kepada Wagiyo.

Pada saat itu Wagiyo tidak menaruh curiga terhadap perkataan Suharto. Sesaat setelah ketemu, ia pulang ke rumah. Sekira pukul 07.30, Wagiyo kembali ke komplek pemakaman dan mendapati korban sudah tidak bernyawa dalam posisi gantung diri di blandar salah satu bangunan di kompleks makam.

Mendapati kondisi tersebut, Wagiyo segera mencari warga lainnya, dan kemudian warga melaporkan kejadian ke Polsek Playen. Mendapati laporan tersebut, Aiptu Wagiman dari KSPK III Polsek Playen beserta tim medis Puskesmas Playen II segera mendatangi lokasi kejadian.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan penyelidikan petugas kepolisian dan petugas medis Puskesmas, dinyatakan Suharto meninggal karena bunuh diri dengan gantung diri. Pemeriksaan medis juga menunjukkan tidak ditemukan tanda-tanda adanya kekerasan fisik atau penganiayaan pada korban, sehingga dipastikan meninggal karena bunuh diri.

Menurut kesaksian Wagiyo, kondisi Suharto sebelumnya baik-baik saja. Pesan Suharto bahwa badannya sudah tidak kuat dan menitipkan keluarga itu tidak disangka menjadi pembicaraan terakhir sebelum Suharto mengakhiri hidup dengan gantung diri di pemakaman umum.

Kejadian pada pagi hari tersebut sempat membuat warga Plembutan gempar. Puluhan warga sempat mendatangi makam lokasi kejadian tersebut sebagai wujud penasaran dan keprihatinan kejadian yang menimpa Suharto.

Hasil olah tempat kejadian perkara oleh petugas kepolisian, didapati coretan tulisan “MBAH YO AKU OJO DIPETI .. HARTO”. Coretan tulisan di salah satu dinding makam tersebut terlihat masih baru. Tulisan tersebut nampaknya pesan dari korban. Diketahui, Mbah Yo adalah kaum (pemuka agama) Dusun Plembutan, sehingga tulisan tersebut merupakan pesan bagaimana permintaan cara pemakaman yang diminta korban.

Wage Daksinarga, pegiat kesehatan jiwa dari Yayasan Imaji mengungkapkan pengakuannya terhadap kejadian yang menimpa Suharto. Meski berdomisili di Trowono Paliyan, Wage cukup mengenal Suharto. Korban dikenalnya sebagai pribadi yang ramah.

“Orangnya enerjik, dan pinter srawung. Kebetulan ponakan Suharto pernah bekerja sebagai tukang las di bengkel saya. Dulu Pak Suharto ini sering ke Trowono karena sopir angkudes” ungkap Wage.

Mendapatkan pesan WA dari jejaring grup, Wage cukup kaget dengan kejadian pagi ini, karena pada Selasa siang (05/3/19) masih sempat menyapa Suharto ketika berpapasan di jalan raya Playen – Paliyan.

Wage juga mengungkapkan, kalau melihat penampilan Suharto, tidak ada yang menyangka akan melakukan tindakan bunuh diri. Apa yang terjadi pada Suharto pagi ini, menurutnya menunjukkan pentingnya untuk selalu menjaga diri, karena menurutnya risiko bunuh diri dapat menimpa siapapun.

Wage terus mengajak agar warga tidak bosan untuk memperhatikan kondisi fisik dan kejiwaan diri sendiri dan kondisi keluarga serta tetangga terdekat. (Kandar/KabarHandayani).

Facebook Comments