Bangkit dari Keterpurukan

PENGANTAR: IASP (International Association for Suicide Prevention) mencanangkan setiap 10 September sebagai hari pencegahan bunuh diri. Peringatan tersebut merupakan momentum sekaligus ajakan agar seluruh warga dunia semakin peduli terhadap permasalahan bunuh diri, sehingga masing-masing dapat mengambil peran penting dalam upaya pencegahannya.

Tema peringatan tahun ini adalah Working Together to Prevent Suicide. Bekerja bersama-sama dan bekerja sama untuk mencegah bunuh diri. Ya, memang begitulah. Penanggulangan bunuh diri membutuhkan kerjasama dan kerja keras bersama. Bersama untuk meringankan keluarga-keluarga yang terdampak. Bersama melawan stigma dan aib yang masih sering ditimpakan kepada penyintas dan keluarga. Bersama untuk meneruskan perjalanan hidup, dan tentunya bersama untuk mendapatkan pembelajaran-pembelajaran baru dalam menapaki kehidupan selanjutnya.

Catatan yang saya buat 10 hari ke depan menyambut WSPD ini tidak saya susun dari teks-teks akademik. Tetapi sekadar catatan ringan terkait pencegahan bunuh diri yang saya dan teman-teman lain (mas Wage, mas Wahyu, mas Basuki, mas Kandar, Paklek Sop, dan kawan lainnya) peroleh.

Darimana? Dari pengalaman lapangan sedulur-sedulur yang menumpahkan isi hati saat kami berkunjung, menemani ngobrol, dan bersama-sama berbagi kisah melampaui pernak-pernik perjalanan hidup. Catatan hari pertama ini, saya tuliskan kembali kisah dari Dusun Karangsari, Karangrejek, Wonosari. Kisah ini juga ditulis atas ijin yang bersangkutan.

Berusaha untuk bangkit dari keterpurukan. Demikian ungkapan yang pas untuk Pak Marsudi (41), warga Padukuhan Karangsari, Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul ini. Sebelumnya, Marsudi menjalani rutinitasnya sebagai tukang las. Dengan pekerjaan itu, dirinya mampu menafkahi keluarga. Memberikan uang belanja kepada istri dan menyediakan biaya pendidikan untuk anak-anaknya. Kehidupannya berjalan normal layaknya warga dusun lainnya.

Kondisi berubah drastis. Marsudi, harus menerima kenyataan pahit. Cerita kelam dalam hidupnya diawali pada suatu siang sesaat setelah ia melaksanakan sholat dhuhur. Kakinya terasa sakit, hingga ia sulit berdiri. Peristiwa ini terjadi awal Juni 2017 lalu.

Upaya berobat beberapa kali tidak juga membuat sakitnya berangsur sembuh. Hingga akhirnya ia harus menerima kenyataan, pada 15 Juni 2017 lalu kaki kanannya harus diamputasi. Tepat di atas lutut kaki sebelah kanan harus dipotong.

Tak mudah menerima kenyataan itu. Marsudi berusaha tabah. Sebab, jika hal tersebut tidak dilakukan, penyakit penyumbatan pembuluh darah yang dideritanya diprediksi mengancam nyawanya.

Dengan satu kaki tak memungkinkan dirinya bisa menjalani pekerjaan tukang las seperti sebelumnya. Karena itu ia berhenti bekerja. Perasaan menjadi beban keluarga muncul. Ia menganggur, sementara istrinya menggantikan perannya sebagai tulang punggung keluarga. Marsudi tidak betah dengan kondisi yang dialami.

Pada suatu siang jelang sore, selepas anaknya pulang dari sekolah, Marsudi sempat meminta tolong anaknya untuk membelikan obat serangga ke toko pertanian di dekatnya. “Lho arep nggo apa Pak?” tanya anaknya. “Wis gek tukokna wae,” sahut Marsudi. Sepulang beli obat serangga, Marsudi meminta anaknya untuk pergi rumah simbah, karena ia beralasan pengen istirahat tidur di rumah.

Sesampai di rumah simbahnya, anak tersebut ditanya kakeknya kenapa datang ke rumah waktunya nanggung. Sang kakek ternyata punya perasaan yang tajam. Setelah mendengarkan cerita cucunya, buru-buru ia pergi ke rumah cucunya, ia mendapati kondisi mengenaskan, menantunya ternyata baru saja meminum racun serangga.

Segera saja si kakek meminta pertolongan tetangga kanan-kiri. Dalam kondisi kacau dan kalut, Marsudi dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan darurat. Setelah beberapa hari dirawat, Marsudi diperbolehkan pulang ke rumah. Ia selamat dari percobaan bunuh diri yang dapat digagalkan karena “greteh’-nya bapak mertua, keluarga dan para tetangganya. Marsudi terus mendapatkan dukungan pengobatan fisik dan psikis dari keluarga dan para tetangganya.

“Saya kepingin kembali berperan sebagai suami bagi istri dan bapak bagi anak-anak. Masak saya sebagai lelaki malah menjadi beban keluarga,” tutur Marsudi menggambarkan kesedihan saat kami dolan ke rumahnya.

Tak lagi mampu bekerja kembali sebagai tukang las, ia sempat berangan-angan merintis profesi lain. Dirinya berharap suatu saat nanti dapat berjualan keliling. Jualan sayur atau jualan apa saja. Namun, kendala yang dihadapi dirinya tidak memiliki kendaraan khusus sesuai kondisi fisiknya. “Saya kepingin memiliki sepeda motor beroda tiga. Motor dimodifikasi sesuai kondisi fisik saya. Mudah-mudahan nanti ada yang membantu,” harap Marsudi dengan sungguh-sungguh.

Benar, datangnya bantuan ternyata tak dapat diduga. Terkadang benar-benar bermodalkan jaringan pertemanan. Atas budi baik Mas Sulis dkk dari Fakultas Psikologi Sarjanawiyata yang pernah kami dampingi selama penelitian di Gunungkidul, ternyata ada peluang dan jalan baik untuk bisa mewujudkan harapan Pak Marsudi. Caraya bagaimana? Pertama, menanyakan apa yang menjadi harapan dan kebutuhan Pak Marsudi untuk bisa mandiri. Kedua, Mas Sulis mengkontak tempat dia bekerja sebelumnya di Pusrehab Yakkum, untuk mengikutkan Pak Marsudi dalam program pendampingan dan pemberdayaan warga dengan disabilitas.

Berproses dalam pendampingan dan pemberdayaaan di salah satu LSM di Yogya tersebut, pada akhirnya Pak Marsudi menemukan “jalan hidupnya” yang baru, yaitu menekuni bisnis di bidang jasa laundry. Mengurusi usaha laundry yang semakin hari semakin bertambah ordernya dari para pelanggan telah membuat hidupnya tidak “ngelangut” lagi. Marsudi menjadi pribadi yang penuh semangat dan periang. Ia sudah mampu melampaui dan berdamai dengan kondisi disabilitas fisik dan trauma psikologis peristiwa percobaan bunuh diri yang pernah terjadi. Istri, anak-anak dan keluarga besarnya juga menjadi penopang kokoh baginya dalam menjalani hidup.

Semangat dan kesungguhannya terwujud dalam ketekunan menjalani bisnis laundry. Semangat Marsudi untuk berbagi pengalaman hidup dan menularkan hal baik juga dilakukan dengan aktif mengikuti kegiatan forum-forum disabilitas di Gunungkidul dan Yogyakarta. Ia juga bersemangat ketika suatu ketika diminta berbagi kisah perjuangan di pertemuan disabilitas nasional di Jakarta.

Pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2019 yang digelar di halaman DPRD Gunungkidul Oktober tahun lalu, Marsudi juga menjadi salah satu penyintas yang menceritakan kisah inspiratif perjalanan hidupnya. Bagaimana ia melampaui kepedihan dari peristiwa buruk, dan bagaimana ia bangkit kembali. Dan itu bermula, dari keluarganya yang menyayangi tanpa batas dan hidup memang tetap layak dijalani.

***

Catatan: Content dan foto diunggah dengan ijin dari penyintas yang ditulis.

****

#workingtogethertopreventsuicide

#bersamamencegahbunuhdiri

#suicidevoorkomjesamen

#nohealthwithoutmentalhealth.

****

Catatan #1 menuju Suicide Prevention Day 10 Sept 2020.

Penulis: J Yanuwidiasta.

Facebook Comments
Top