Nduwe Pangarep-arep Urip

Saya lahir di Gunungkidul. Bapak dan ibu saya juga dilahirkan di Gunungkidul. Julukan wong Nungki tulen itu pernah saya dapatkan ketika hidup dalam perantauan area barat Jakarta. Saya anak pertama dari 3 bersaudara, laki-laki semua. Saya dibesarkan dalam atmosfir pedesaan, kehidupan petani tadah hujan. Saya benar-benar merasakan perbedaan saat bersekolah di negara (istilah kami orang desa untuk Yogya Kota). Saya anak desa masuk kota. Dialek, suba-sita, terbatasnya pengalaman pergaulan jelas membuat saya sering dipandang aneh, lucu, wagu, sehingga menjadi bahan tertawaan teman-teman sekolah yang kebanyakan orang kota.

Waktu itu, bapak dan ibu memang sengaja nyapih (memisahkan) saya. Rupanya bapak ibu menggembleng saya agar lebih mandiri dan tidak nyremimih. Bertemu banyak orang dari berbagai asal memang menjadikan saya lebih terbuka wawasannya. Belakangan saya ingat, pada suatu saat bapak ibu pernah keceplosan berharap ada anaknya yang bisa menjadi dokter. Meskipun ekonomi bapak ibu pas-pasan, mereka berusaha keras memberikan pendidikan terbaik untuk ketiga anaknya. Bapak dan ibu pekerja keras, mereka menjadi petani tangguh di sela-sela pekerjaan pokok menjadi guru yang digaji pemerintah.

Saya termasuk anak yang tidak bisa mewujudkan harapan mulia orang tua. Saya ketakutan akut ketika melihat luka orang kecelakaan dan darahnya mengucur. Saya juga lemah dalam pelajaran biologi. Apalagi dulu ada pelajaran anatomi yang gurunya galak minta ampun. Namun, saya bisa menebus kekecewaan bapak ibu yang tak pernah terucap itu. Saya mbrebes mili ketika bapak ibu dengan mantap dan tidak malu menceritakan apa pekerjaan saya dengan bangga meski bukan sebagai pegawai negara.

Saya pengen menceritakan sebuah kejadian pada waktu masa anak menuju remaja-pemuda. Jaman dahulu, anak-anak di kampung kami tidak boleh melihat rombongan lelayu yang menggotong jenazah ke pemakaman. Kalau tetap nekat berdiri di pinggir jalan menyaksikan rombongan lewat, diyakini bakal membuat keluarga menjadi celaka. Tidak tahu mengapa, ketakutanlah yang tiba-tiba muncul. Anak-anak yang tadinya bermain di halaman, buru-buru lari masuk rumah dan bersembunyi. Namun, ada saja yang tetap nekat nginjen rombongan pejalan kaki yang membawa jenazah dari celah dinding bambu.

Sewaktu kecil, saya pernah mendengar obrolan tentang “pulung gantung”. Obrolan ini terjadi pada waktu ada orang yang bunuh diri dengan gantung diri. Dulu, saya tidak sempat berpikir panjang, mengapa sampai ada orang gantung diri. Yang ada hanyalah suasana ketakutan. Satu-satunya kabar berita yang beredar cepat adalah adanya makhluk ghaib pulung gantung yang membuat orang bunuh diri. Warga seperti terhipnotis dengan kabar yang beredar ini. Mereka takut dan enggan membicarakan lebih dari itu. Menyelidik lebih lanjut tentang sebab musabab bunuh diri dianggap ora ilok, ngowah-owahi adat. Dianggap menantang takdir Illahi.

Tengah tahun menjelang naik kelas 3 SMP, saya menyaksikan peristiwa menyedihkan yang menimpa satu keluarga. Warga ini tinggal di dekat rumah simbah saya. Wo Kliwon (bukan nama sebenarnya), begitu saya biasa menyebutnya, menyesuaikan bapak yang memanggilnya Kang Kliwon. Wo Kliwon seorang petani sederhana. Ia pekerja keras, ramah, dan selalu riang gembira. Wo Kliwon selalu tampil menjadi pemain reog pada saat ada pesta dusun yang bernama rasulan. Ia lincah berjoget, wajahnya selalu tersenyum sumringah. Ia selalu menyapa anak-anak yang berkerumun, “Ayo Lik, melu njoget Lik!”. Lik adalah panggilan penuh rasa hormat kepada anak-anak, kurang lebih berarti Cah Bagus.

Siang menjelang sore saat musim kemarau, tiba-tiba terdengar jeritan suara minta tolong. Bunyi kentongan titir ditabuh terus-terusan. Bapak mencari arah sumber suara, lantas bergegas lari. Hampir semua warga dusun juga berlari ke arah sumber suara. Jelas suara berasal dari arah selatan. Di sebelah selatan ladang yang memisahkan rumah yang kami tempati dengan rumah simbah. Dalam situasi kebingungan, saya, adik dan ibu akhirnya juga ikut berlari ke arah selatan melintasi tegalan.

Dalam suasana kalut terdengar ada yang mengatakan, “Pak Kliwon nglalu njegur sumur.” Sesampai di tempat kejadian, saya mendapati sumur sudah dikelilingi bapak-bapak yang sudah duluan sampai. Wo Kliwon memang njegur sumur sedalam 15-an meter, namun kondisinya masih selamat. Ia masih berada di dalam sumur. Tak lama kemudian ada seorang bapak yang membawa tangga bambu panjang dan peralatan lain untuk mengangkat Wo Kliwon. Salah satu warga dengan tali terikat pada badannya turun ke sumur meniti tangga bambu. Selang berapa lama, di mulut sumur muncul Wo Kliwon diikuti sang penolong tadi. Wo Kliwon langsung didekap bapak-bapak. Ia ngewel, tubuhnya berguncang. Ia menangis nggelur-gelur, ia menangis kencang.

Warga yang menyaksikan peristiwa itu tercekat tidak bisa bicara. Ibu-ibu pecah tangisnya melihat Wo Kliwon yang nangis sesenggukan sembari ngomong yang tidak jelas. Ia dipapah para bapak, dibawa masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama, mantri kesehatan datang. Ia memeriksa kondisi Wo Kliwon dan melakukan pengobatan. Malam itu rumah Wo Kliwon menjadi susungan (kerumunan) warga. Mereka berjaga dan menemani keluarga Wo Kliwon. Beberapa malam ada saja warga yang ikut lek-lekan (menemani menghabiskan malam). Kejadian sore itu, merupakan peristiwa untuk pertama kali saya kenal sebagai kejadian bunuh diri. Lebih tepatnya bunuh diri yang gagal atau percobaan bunuh diri.

Bapak memang memiliki kedekatan dengan Wo Kliwon. Wo Kliwon sering diminta membantu keluarga simbah untuk memperbaiki rumah, memikul pupuk kandang ke ladang, dan ikut membantu panen. Selain bertani, Wo Kliwon juga dikenal sebagai tukang gol-gol watu. Bekerja mendongkel, memecah, mengumpulkan batu kapur dari lahan berbatu. Batu tersebut kemudian dijual untuk bahan membangun rumah.

Keluarga saya termasuk yang berterima kasih kepada Wo Kliwon. Sebab, di dusun saya, Wo Kliwon, Mbah Legi, dan Lek Pahing adalah para pekerja tangguh dan hebat. Mereka para pengumpul batu dari tengah ladang, kemudian memikulnya ke pekarangan kami untuk dijadikan bahan pondasi rumah yang dibangun bapak ibu.

Suatu ketika, saya sempat mengobrolkan kembali peristiwa itu dengan bapak. Bapak menceritakan, mengapa dulu mereka berhari-hari lek-lekan di rumah Wo Kliwon adalah untuk ngaruhke dan ngancani agar Wo Kliwon dan keluarga merasa ayem dan gembira. Bahwa ada banyak tetangga yang turut merasa senasib sepenanggungan. Tak butuh waktu lama, Wo Kliwon bisa pulih dan mampu beraktivitas normal.

Setelah kejadian itu, Wo Kliwon justru tambah giat bekerja dan semakin sumringah. Bapak sempat bercerita, gairah hidup Wo Kliwon semakin meluap-luap ketika anak pertama yang merantau ke Jakarta diangkat menjadi guru PNS. Anak-anak lainnya juga sudah mentas, dan menyusul bekerja merantau ke kota.

Saat pesta bersih dusun Agustus 2018 lalu, saya juga sempat bertemu dengan Mas Prasojo, anak kedua Wo Kliwon. Ia lebih tua 4 tahun di atas umur saya. Sepulang dari merantau, Mas Prasojo menjadi pebisnis kayu bahan mebeler. Ia menjadi pengepul kayu gelondongan, kemudian dijual ke Klaten, Solo, Semarang, dan Jepara. Kami sama-sama tertawa ngakak ketika mengenang kembali kejadian-kejadian di masa lalu. Cerita tentang tingkah polah dan kenakalan kami sewaktu bermain gobak sodor, jethungan, juga makan bareng dan tidur beramai-ramai di rumah simbah.

Tertawa ngakak kembali lepas ketika Mas Prasojo mengenang keluarganya pernah kehabisan gaplek. Kemudian setiap hari memakan bubur yang diolah dari bladegan tanpa secuil pun lauk pauk. Bladegan adalah sisa-sisa gaplek yang sudah lama tersimpan dan menjadi bubuk karena dimakan kutu. Mas Prasojomenganggap saya belum pernah mencicipi nasi tiwul. Mosok anak pegawai apalagi cucu seorang dongkol dukuh kok makan tiwul. Padahal, ibu saya juga terbiasa menghidangkan nasi tiwul, sego jagung, atau nasi pletik. Itu dilakukan untuk mengirit pengeluaran beras. Sesaat kami sama-sama tertegun. Tak terasa menetes air mata sewaktu Mas Prasojo dengan tenangnya kembali menceritakan peristiwa Wo Kliwon njegur sumur. “Alkhamdulillah mas, saya bisa menemani bapak sampai akhir hidupnya. Bapak meninggal dengan khusnul khotimah pada masa tuanya.” Kata-kata itu meluncur lancar diucapkan Mas Prasojo.

Peristiwa yang pernah saya jumpai ini masih terngiang-ngiang dalam pikiran saya. Kejadian pada masa kecil itu pula yang membuat saya mengerti, bahwa kejadian bunuh diri atau pun bunuh diri yang gagal itu sungguh perkara berat. Membutuhkan usaha luar biasa keras dan tidak mudah bagi penyintas dan keluarganya untuk bisa kembali pulih seperti sedia kala.

Saya menjadi mengerti, bahwa nduwe pengarep-arep sajroning urip (punya pengharapan, having hope) itu menjadi modal yang luar biasa hebat dalam menapaki laku hidup yang tidak selalu mulus bahkan terkadang melintasi jurang curam atau tanjakan terjal.

Saya juga menjadi mengerti, mengapa dulu para tetangga tidak pernah nggeguyu (mentertawakan), ngarani nyupata elek (memberi cap buruk), ora emban cindhe emban siladan (tidak mendiskriminasi) Wo Kliwon sebagai orang dan keluarga buruk karena pernah melakukan tindakan percobaan bunuh diri.

Rupanya, dulu para tetangga sudah bisa melakukan penanggulangan/pencegahan bunuh diri dengan menciptakan situasi yang memulihkan, mungkin istilah keren di masa kini adalah well-social-support-system.

Jaman now adalah jaman modern, bahkan ada pula yang menandai sebagai jaman posmo. Jaman apa-apa serba canggih. Masyarakat semakin terdidik, semakin cerdas, semakin well-informed, semakin pengen know-how, dan tentunya semakin gercep. Karena itulah, menjadi keniscayaan untuk menciptakan sistem atau memberikan dukungan sosial yang memungkinkan sedulur-sedulur yang pernah terdampak peristiwa kelam kejadian bunuh diri atau percobaan bunuh diri menjadi pulih, serta upaya pencegahan kejadian serupa di kemudian hari.

Selamat malam, selamat mengambil peran penting dalam upaya penanggulangan bunuh diri.

***
***
Catatan hari #10 (terakhir) menyambut World Suicide Prevention Day, Sep 10, 2020. Tulisan ini sebagian saya cuplik dari kisah yang pernah saya tulis dengan judul Menata Hati dan Melihat dengan Mata Hati (Kumpulan Kisah Ketahanan Jiwa dari Gunungkidul, Imaji-DeoGratias, 2018).
Penulis: J Yanuwidiasta.
Facebook Comments
Top